Aku
memahat namamu dalam keningku
Melukis
ruhku sendiri dan mengalungkan di seluruh raga
Kau
membuang wajahmu di antara gerimis yang gugur
Di
beranda itu “siapakah rindu itu ?”
Aku
patung di pagar-pagar rumahmu
Di
kolam itu, aku berenang mengitari waktu
Waktu
yang mengibas-ngibas jantungku, cepat dan sesaat
Akupun
tak melihat daun bersemi setalah gugur kemarin
Alif-Ba-Ta
Denyut
nadiku adalah musik rerindu dan
Bicaramu
adalah nada yang berdendang-berdentang dan
Lagu-lagu
itu misteri
Di
antara jejak kaki dan surya yang tenggelam
Aku
melihat narjas di kampong halamanku yang kemarau
Kaf-Ha’-Ya’
Bibirku
dingin; bercumbu dalam waktu seperempat malam
Abad
pun berlalu ke ruang yang pengap
Batinku-batinmu berjumpa di padang
yang gersang
Bertegur
dalam sahara dan luka yang membatin
‘Ain-Shaad
Tinta
telah habis mengering; kalam-jejalan-reranting
Dan
hujan adalah serpihan firman
Cerita
itu pun tutup buku, memahat waktu di keningmu
Bibirku-bibirmu,
sungguh Aku
Berebut
dalam ucap, sesebut dalam nafas !
Alif-Ba-Ta-Kaf-Ha’-Ya’-‘ain-Shaad
Aku
terpasung
Berpulang
lewat pos kilat tanpa alamat
***
Ketika
kau tak faham lagi dengan diriku
Ketika
itu pula aku seperti mayat hidup
Di
antara tungku perapian dan gumpalan salju
Di
antara dinginnya jemariku dan isyarat rapuhnya kenanga layu
Bertakhta
perkamen dan darah beku
Yang
di atasnya ialah . . . “pajangan mayatku”
Ketika
kau tak faham lagi dengan tangisku
Ketika
itu pula penglihatanku membatu
Berkiblat
ke arahmu dan pengkhianat kuncup-kuncup sedap malam
Yang
putiknya beracun nafsu
Dengan raut bengis dalam dinginnya kelambu
Dan
angin menjemputku . . .
Angin
dengan rayu-rayu ilalang
Dan
ia tak bersama embun, yang menyeka lantaiku di waktu subuh
Dengan
aroma peti matiku . . .