(Ejaan sederhana bagi Ia, Ia yang hatiku mewangi untuknya)
Masih belum surut
Dan masih membanjiri, menggenang bersama plasma darahku
Masih sewangi edelweis yang menyapa subuh disapa embun
Masih sehangat pelukan ranting-ranting kasturi
Tapi tak lagi sepanas suryalaya berjarak sejengkal, begitulah cintaku . . .
Lisanku kelu,
Tak ada prosa,
Miskin pula dikata
Seperti balita, aku kembali belajar mengeja
Tapi hanya kosa kata sederhana
Kau tahu ?
Betapa sulit aku merefleksikan diriku tanpa kata-kata rumit . . .
Kau tahu ?
Tiga perempat mati ku ikat lisanku dari komplikasi permainan sajak
Dan kau tahu ?
Aku tak hanya berlutut, tapi bersujud dihadapan Sang Maha Segalanya.
Dengan sesimpul senyum pada langit dan penciptanya aku meminta
Dalam baur sepuncah tangis aku memohon dengan segala kerendahan hati pada Sang Pencipta
diriku . . .