(Catatan
sebaris yang tadinya tak ku gubris, lantaran embun malam nodai mahkotamu, saat gumpalan mega menutup rembulan)
Ada
butiran air mata menetes jatuh satu-satu
Merembes
pada satu wajah polos
Dari
sebuah bilik kumuh
Hatinya
remuk menganga luka
Menebar
benih-benih kesumat
Kata
tak kuasa ku rangkai
Tuk
bangunkan redup cahaya yang bergelimang maksiat
Puja-puja
darah mulai mengental
Dalam
adrenalin ketika rasa sudah mengenyampingkan etika
Makna
isyaratmu pun kelabu
Enggan
bersulang warna peradaban
Sedang
aroma kebusukan kian menjalar
Meranggas
waktu memburu dosa
Satu
tanya menyimpul disudut sesalmu
Angan
ingin berjajar dalam insyaf
(Sejatinya
aku berharap pagi akan merubah perjalanan darah, menggantikan gerimis yang
menyandera hasratmu)
