Rinai
. . .
Ku
amati kemudian
Ternyata
bukan karena kau
Tapi
karena merindu dirinya yang mencintaiku di balik punggungmu
Cemas
. . .
Apakah
Ia baik saja disana sementara Aku terhimpit diantara dua nisan ini ?
Ragu
. . .
Apakah
aku harus terus bertengger ataukah menelusur ?
Semuanya
melayang bagai tetes minyak milikan di ruang hampa udara
Lalu
ada satu yang melintas
“Adakah
sukma yang setara dengannya ?”
Kalimat
itu bersinggungan dengan garis tegak lurus yang berkiblat ke arahmu
Dan
membuat semesta rancu
Ada
lagi yang mengendap-endap
Dan
berbisik bahwa kau terlalu angkuh untuk ukuran seorang lelaki
Biar
nelangsa mengoyakmu dan menelantarkanmu kemudian
Seperti
halnya kau menelantarkanku
Ibarat
kata “Aku di balik jubah bermantra sehingga kau tak menyapa”
Barusan
tadi aku betolak ke teras depan
Ku
lihat angkasa terlukis nama-Nya, seakan restu-Nya menyertai tindakanku
Mengepulkan
asap serta api
Didepan
wajah orang yang berlagak seperti orang berdasi sepertimu
Sudah
ku imbau bukan ? jangan bertingkah ocehku
Tapi
apa ?
Lakumu
selayaknya keledai !
Oh
yaa . . . Untuk Ia
“Terimakasih
. . . diam untukku, membuatku semakin mencintaimu . . .”
*Salam
dari yang mencintaimu dibalik punggungnya.